Senin, 26 Desember 2011

psoriasis


      I.            Pengertian
Psoriasis merupakan penyakit menahun dan bersifat kambuhan, yang ditandai oleh adanya benjolan bersisik berwarna keperakan dan sejumlah plak (bercak yang menonjol) dengan ukuran yang bervariasi.
Psoriasis adalah penyakit kulit kronik residif dengan lesi yang khas berupa bercak-bercak eritema berbatas tegas, ditutup oleh skuama tebal berlapis-lapis berwarna putih mengkilat (Siregar, 2004 : 94) Berbeda dengan pergantian kulit pada manusia normal yang biasanya berlangsung selama tiga sampai empat minggu, proses pergantian kulit pada penderita psoriasis berlangsung secara cepat yaitu sekitar 2–4 hari, (bahkan bisa terjadi lebih cepat) pergantian sel kulit yang banyak dan menebal.

    II.            Etiologi
Etiologi belum diketahui, yang jelas ialah waktu pulih (turn over time) epidermis dipercepat menjadi 3-4 hari, sedangkan pada kulit normal lamanya 27 hari.Berbagai penyelidikan yang lebih mendalam untuk mengetahui penyebabnya yang pasti masih banyak dilakukan. Beberapa faktor penting yang disangka menjadi penyebab timbulnya Psoriasis adalah :
1.      Genetik
2.       Imunologik
3.       Stres Psikik
4.      Infeksi fokal. Umumnya infeksi disebabkan oleh Kuman Streptococcus
5.      Faktor Endokrin. Puncak insidens pada waktu pubertas dan menopause, padawaktu kehamilan membaik tapi menjadi lebih buruk pada masa pascapartus.
6.       Gangguan Metabolik, contohnya hipokalsemia dan dialisis.
7.       Obat-obatan misalnya beta-adrenergic blocking agents, litium, antimalaria, dan penghentian mendadak korikosteroid sistemik.
8.       Alkohol dan merokok.

 III.            Patofisiologis
Psoriasis merupakan penyakit kronik yang dapat terjadi pada setiap usia. Perjalanan alamiah penyakit ini sangat berfluktuasi. Pada psoriasis ditunjukan adanya penebalan epidermis dan stratum korneum dan pelebaran pembuluh-pembuluh darah dermis bagian atas. Jumlah sel-sel basal yang bermitosis jelas meningkat. Sel-sel yang membelah dengan cepat itu bergerak dengan cepat ke bagian permukaan epidermis yang menebal. Proliferasi dan migrasi sel-sel epidermis yang cepat ini menyebabkan epidermis menjadi tebal dan diliputi keratin yang tebal ( sisik yang berwarna seperti perak ). Peningkatan kecepatan mitosis sel-sel epidermis ini agaknya antara lain disebabkan oleh kadar nukleotida siklik yang abnormal , terutama adenosin monofosfat(AMP)siklik dan guanosin monofosfat (GMP) siklik. Prostaglandin dan poliamin juga abnormal pada penyakit ini. Peranan setiap kelainan tersebut dalam mempengaruhi plak psoriatik belum dapat dimengerti secara jelas.
 IV.            Gejala Klinis
Penderita biasanya mengeluh adanya gatal ringan pada tempat-tempat predileksi, yakni pada kulit kepala, perbatasan daerah tersebut dengan muka, ekstremitas bagian ekstensor terutama siku serta lutut, dan daerah lumbosakral. Kelainan kulit terdiri atas bercak-bercak eritema yang meninggi (plak) dengan skuama diatasnya. Eritema berbatas tegas dan merata. Skuama berlapis-lapis, kasar, dan berwarna putih seperti mika, serta transparan.
Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner. Fenomena tetesan lilin ialah skuama yang berubah warnanya menjadi putih pada goresan, seperti lilin digores. Pada fenomena Auspitz serum atau darah berbintik-bintik yang disebabkan karena papilomatosis. Trauma pada kulit , misalnya garukan , dapat menyebabkan kelainan yang sama dengan kelainan psoriasis dan disebut kobner. Psoriasis juga dapat menyebabkan kelainan kuku yang agak khas yang disebut pitting nail atau nail pit berupa lekukan-lekukan miliar.
Bentuk Klinis :
1. Psoriasis Vulgaris
2. Psoriasis Gutata
3. Psoriasis Inversa ( Psoriasis Fleksural)
4. Psoriasis Eksudativa
5. Psoriasis Seboroik (Seboriasis)
6. Psoriasis Pustulosa ( Pustulosa Palmoplantar & Pustulosa Generalisata Akut)
7. Eritroderma Psoriatik
    V.            Diagnosis
Jika gambaran klinisnya khas, tidaklah sukar membuat diagnosis. Kalau tidak khas, maka harus dibedakan dengan beberapa penyakit lain yang tergolong dermatitis eritroskuamosa. Pada diagnosis banding hendaknya perlu diingat , bahwa pada psoriasis terdapat tanda-tanda yang khas, yakni skuama kasar, transparan serta berlapis-lapis , fenomena tetesan lilin,dan fenomena auspitz serta kobner.
Diagnostik banding :
a. Dermatofitosis dengan keluhan gatal sekali dan ditemukan ada jamur.
b. Sifilis Psoriasiformis (sifilis stadium II)
c. Dermatitis seboroik.
 VI.            Penatalaksanaan Medik
Sampai saat ini belum ditemukan pengobatan yang spesifik karena penyebabnya belum jelas dan banyak faktor yang berpengaruh. Psoriasis sebaiknya diobati secara topikal. Jika hasilnya tidak memuaskan, baru dipertimbangkan pengobatan sistemik karena efek samping pengobatan sistemik lebih banyak.
Pengobatan Sistemik
1.      Kortikosteroid ( Prednison )
2.      Obat sitostatik (Metroteksat)
3.      Levodopa
4.      DDS(diaminodifenilsulfon)
5.      Etretinat dan Asitretein
6.      Siklosporin
Pengobatan Topikal
1.      Preparat Ter ( fosil, kayu, batubara )
2.      Kortikosteroid ( senyawa fluor )
3.      Ditranol ( antralin )
4.      Pengobatan dengan peyinaran
5.      Calcipotrio
VII.            Konsep Dasar Keperawatan

1.      Pengkajian Keperawatan
Pengkajian 11 Pola Gordon:
a.          Pola Persepsi Kesehatan
·         Adanya riwayat infeksi sebelumya.
·          Pengobatan sebelumnya tidak berhasil.
·          Riwayat mengonsumsi obat-obatan tertentu, mis., vitamin; jamu.
·         Adakah konsultasi rutin ke Dokter.
·          Hygiene personal yang kurang.
·         Lingkungan yang kurang sehat, tinggal berdesak-desakan.
b.      Pola Nutrisi Metabolik
·         Pola makan sehari-hari: jumlah makanan, waktu makan, berapa kali sehari makan.
·          Kebiasaan mengonsumsi makanan tertentu: berminyak, pedas.
·          Jenis makanan yang disukai.
·          Napsu makan menurun.
·          Muntah-muntah.
·          Penurunan berat badan.
·          Turgor kulit buruk, kering, bersisik, pecah-pecah, benjolan.
·          Perubahan warna kulit, terdapat bercak-bercak, gatal-gatal, rasa terbakar atau perih.
c.       Pola Eliminasi
·         Sering berkeringa.
·          Tanyakan pola berkemih dan bowel.
d.       Pola Aktivitas dan Latihan
·         Pemenuhan sehari-hari terganggu.
·          Kelemahan umum, malaise.
·          Toleransi terhadap aktivitas rendah.
·          Mudah berkeringat saat melakukan aktivitas ringan.
·          Perubahan pola napas saat melakukan aktivitas.
e.        Pola Tidur dan Istirahat
·         Kesulitan tidur pada malam hari karena stres.
·          Mimpi buruk.
f.        Pola Persepsi Kognitif
·         Perubahan dalam konsentrasi dan daya ingat.
·         Pengetahuan akan penyakitnya.
g.       Pola Persepsi dan Konsep Diri
·         Perasaan tidak percaya diri atau minder.
·         Perasaan terisolasi.
h.       Pola Hubungan dengan Sesama
·         Hidup sendiri atau berkeluarga
·         Frekuensi interaksi berkurang
·         Perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran
i.         Pola Reproduksi Seksualitas
·         Gangguan pemenuhan kebutuhan biologis dengan pasangan.
·         Penggunaan obat KB mempengaruhi hormon.
j.         Pola Mekanisme Koping dan Toleransi Terhadap Stress
·         Emosi tidak stabil
·         Ansietas, takut akan penyakitnya
·         Disorientasi, gelisah
k.      Pola Sistem Kepercayaan
·         Perubahan dalam diri klien dalam melakukan ibadah
·         Agama yang dianut
2.      Diagnosa dan Rencana Tindakan
DX 1: Kerusakan integument kulit berhubungan dengan inflamasi antara dermal- epidermal sekunder akibat psoriasis.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 X 24 jam diharapkan integument kulit teratasi dengan criteria hasil:
o   Area terbebas dari infeksi lanjut
o   Kulit bersih, kering dan lembab
       Intervensi:
1.      Kaji keadaan kulit
Rasional: Mengetahui dan mengidetifikasi kerusakan kulit untuk melakukan intervensi yang tepat.
2.      Kaji keadaan umum dan observasi TTV
Rasional: Mengetahui perubahan status kesehatan pasien.
3.      Kaji perubahan warna kulit
Rasional: Megetahui keefektifan sirkulasi dan mengidentifikasi terjadinya komplikasi.
4.       Pertahankan agar daerah yang terinfeksi tetap bersih dan kering
Rasional: Membantu mempercepat proses penyembuhan.
5.      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat-obatan.
Rasional: Untuk mempercepat penyembuhan.
DX 2: Ketakutan berhubungan dengan perubahan penampilan
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 X 24 jam diharapkan ketakutan teratasi dengan criteria hasil:
o   Klien menyatakan peningkatan kenyamanan psikologis dan fisiologis.
o   Dapat menjelaskan pola koping yang efektif dan tidak efektif.
o   Mengidentifikasi respons kopingnya sendiri.
Intervensi:
1.      Kaji ulang perubahan biologis dan fisiologis.
Rasional: Reaksi fisik kronis terhadap stresor-stresor menunjukkan adanya penyakit kronis dan ketahanan rendah.
2.       Gunakan sentuhan sebagai toleransi.
Rasional: Kadang-kadang dengan memegang secara hangat akan menolongnya mempertahankan kontrol.
3.       Dukung jenis koping yang disukai ketika mekanisme adaftif digunakan.
Rasional : Marah merupakan respon yang adaptif yang menyertai rasa takut.
4.       Anjurkan untuk mengekspresikan perasaannya.
Rasional: Dapat mengurangi stres pada pasien.
5.       Anjurkan untuk menggunakan mekanisme koping yang normal.
Rasional: Ketepatan dalam menggunakan koping merupakan salah satu cara mengurangi ketakutan.
6.      Anjurkan klien untuk mencari stresor dan menghadapi rasa takutnya.
Rasional: Kesadaran akan faktor penyebabkan ketakutan akan memperkuat kontrol dan mencegah perasaan takut yang makin memuncak.
DX 3: Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan skunder akibat penyakit psoriasis.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 X 24 jam diharapkan ansietas dapat teratasi dengan criteria hasil:
o   Pasien tampak rileks
o    Pasien mendemonstrasikan/menunjukan kemampuan mengatasi masalah dan menggunakan sumber-sumber secara efekti
o   Tanda-tanda vital normal
o   Pasien melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatas
Intervensi:
1.      Kaji tingkat ansietas dan diskusikan penyebab bila mungkin
Rasional: Identifikasi masalah spesifik akan meningkatkan kemampuan individu untuk menghadapinya dengan lebih realistis
2.       Kaji ulang keadaan umum pasien dan TTV
Rasional : Sebagai indikator awal dalam menentukan intervensi berikutnya
3.      Berikan waktu pasien untuk mengungkapkan masalahnya dan dorongan ekspresi yang bebas, misalnya rasa marah, takut, ragu
Rasional: Agar pasien merasa diterima
4.       Jelaskan semua prosedur dan pengobatan
rasional: Ketidaktahuan dan kurangnya pemahaman dapat menyebabkan timbulnya ansietas
5.       Diskusikan perilaku koping alternatif dan tehnik pemecahan masalah
rasional: Mengurangi kecemasan pasien
DX 4: Gangguan konsep dri berhubungan dengan krisis kepercayaan diri
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 X 24 jam diharapkan gangguan konsep diri teratasi de ngan criteria hasil:
o   Dapat berinteraksi seperti biasa.
o    Rasa percaya diri timbul kembali.
Intervensi:
1.       Kaji perubahan perilaku pasien seperti menutup diri, malu berhadapan dengan orang lain.
rasional: Mengetahui tingkat ketidakpercayaan diri pasien dalam menentukan intervensi selanjutnya.
2.       Bersikap realistis dan positif selama pengobatan, pada penyuluhan pasien.
rasional: Meningkatkan kepercayaan dan mengadakan hubungan antara perawat-pasien.
3.       Beri harapan dalam parameter situasi individu.
rasional: Meningkatkan perilaku positif
4.      Berikan penguatan positif terhadap kemajuan.
rasional: Kata-kata penguatan dapat mendukung terjadinya perilaku koping positif.
5.      Dorong interaksi keluarga.
rasional: Mempertahankan garis komunikasi dan memberikan dukungan terus-menerus pada pasien.




















Datar Pustaka

Ajunadi, Purnawan dkk. 1982. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius: Jakarta.
Carpenito, Lynda Juall. 1998. Diagnosa Keperawatan. EGC: Jakarta.
Djuanda, Adhi. 1993. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Fakultas Kedokteran UI: Jakarta.
Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC: Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar