Minggu, 27 November 2011

proses penuaan


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Sepanjang hayat, manusia mengalami berbagai perubahan yaitu perubahan biologis, sosiologis serta perubahan psikologis. Perubahan-perubahan tersebut membawa manusia menjadi tua (Dharmojo, 2004).
WHO membagi tingkatan usia pada lansia menjadi 3, pembagian dilakukan karena setiap tahapan memiliki karakteristik perkembangan yang berbeda. Usia pertengahan ( middle age ) yaitu antara 45-59 tahun, lanjut usia ( alderly ) yaitu 60-74 tahun, lanjut usia tua ( old ) yaitu antara 75-90 tahun, dan usia sangat tua adalah diatas usia 90 tahun ( Hidayati, 2009).
Proses penuaan adalah proses secara berangsur mengakibatkan perubahan yang kumulatif dan mengakibatkan perubahan yang berakhir dengan krmatian. Penuaan juga menyangkut perubahan struktur sel, akibat interaksi sel dengan lingkungannya, pada akhirnya menimbulkan perubahan generatif. ( Mary ANN Christ et al, 1993, dikutip oleh Hardywinoto dan Toni Setiabudi, 1999).
Bertambahnya angka harapan hidup lansia, beriringan dengan bertambahnya masalah yang akan diderita lansia. Menurut McKeon (1990) hal yang paling menonjol dialami lansia adalah kehilangan, berbagai kesedihan akan dialami oleh lansia akibat dari hal tersebut diatas ( kematian pasangan, teman, keluarga dan rekan kerja). Sepanjang hayat lansia didera berbagai persoalan hidup seperti kemiskinan, kegagalan yang beruntun, stres yang berkepanjangan, ataupun konflik dengan keluarga atau anak, atau kondisi lain seperti tidak memiliki keturunan yang bisa merawat. Kondisi hidup seperti ini dapat memicu terjadinya depresi ( Syamsudin, 2006).







BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN PROSES MENUA
Sepanjang hayat, manusia mengalami berbagai perubahan yaitu perubahan biologis, sosiologis serta perubahan psikologis. Perubahan-perubahan tersebut membawa manusia menjadi tua (Dharmojo, 2004). Tinjauan lanjut usia akan di kaji pengertian tentang lanjut usia, masalah fisik dan mental yang menyebabkan depresi, dan rentang emosional yang biasa terjadi pada keadaan depresi.
Proses menua merupakan suatu proses biologis yang tidak dapat dihindarkan, yang akan dialami oleh setiap orang. Menua adalah proses menghilangnya secara perlahan-lahan ( graduil ) kemampuan jaringan untuk memperbaiki atau mengganti dan mempertahankan struktur dan fungsi secara normal, ketahanan terhadap injury termasuk adanya infeksi ( Paris Constantinides, 1994 ). Proses menua sudah mulai sejak seseorang mencapai dewasa, misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan syaraf dan jaringan lain. Setelah mencapai puncak, fungsi alat tubuh akan berada dalam kondisi tetap utuh beberapa saat, kemudian menurun sedikit demi sedikit sesuai bertambahnya umur.
B.     TEORI-TEORI PROSES MENUA
1.      TEORI BIOLOGIS
Penuaan merupakan proses secara berangsur mengakibatkan perubahan yang kumulatif dan mengakibatkan perubahan yang berakhir dengan kematian. Penuaan juga menyangkut perubahan struktur sel, akibat interaksi sel dengan lingkungannya, yang pada akhirnya menimbulkan perubahan generatif ( Mary ANN Christ et al, 1993, dikutip oleh Hardywinotoo & Toni Setiabudi, 1999).
a.       Teori Genetik Clock
Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk species-species tertentu. Tiap species mempunyai didalam sel intinya satu jam genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu. Secara teoritis dapat dimungkinkan memutar jam ini lagi meski hanya beberapa waktu dengan pengaruh-pengaruh dari luar, berupa peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dengan obat-obatan tindakan tertentu.


b.      Teori Mutasi Somatik
Menurut teori ini, menua disebabkan kesalahan yang beruntun dalam waktu lama dalam transkripsi dan translasi. Kesalahan tersebut menyebabkan terbentuknya enzim yang salah dan berakibat metabolisme yang salah sehingga mengurangi fungsional sel, walaupun dalam batas-batas tertentu kesalahan dalam pembentukan RNA dapat diperbaiki, namun kemampuan memperbaiki diri terbatas pada transkripsi yang tentu akan menyebabkan kesalahan sintetis protein atau enzim yang dapat menimbulkan metabolit berbahaya.
c.       Teori Auto Immune
Dalam teori ini dijelaskan bahwa, didalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi zat khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit. Sebagai contoh adalah tambahan kelenjar timus yang pasa usia dewasa berinvolusi dan semenjak itulah terjadi kelainan autoimun ( Godteris & Brocklehurst, 1989).
d.      Teori Radikal Bebas
Radikal bebas dapat terbentuk dialam bebas, tidak stabilnya radikal bebas mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organik seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak dapat beregenerasi. Di dalam tubuh yang bersiap merusak, dapat dinetralkan dalam tubuh oleh enzim atau senyawa non enzim contohnya : Vit C betakorotin, Vit E.
e.       Pemakaian dan Rusak
Kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah ( rusak ).
f.       Teori “immunology slow virus”
Sistem imun menjad kurang efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus kedalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.
g.      Teori Stress
Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang bisa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha dan stres sel-sel tubuh lelah terpakai.
h.      Teori Rantai Silang
Sel-sel yang tua atau usang, reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kalogen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastis, kekakuan dan hilangnya fungsi.

i.        Teori Program
Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah setelah sel-sel itu mati.
2.      TEORI KEJIWAAN SOSIAL
a.       Teori Aktivitas
Menurut Havighusrst dan Albrecht, 1953 berpendapat bahwa sangat penting bagi individu lansia untuk tetap beraktivitas dan mencapai kepuasan hidup. Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan kegiatan secara langsung. Teori nini menyatakan bahwa lansia yang sukses adalah mereka yang aktiff dan ikut banyak dalam kegiatan sosial.
b.      Kepribadian berlanjut
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lansia. Teori ini merupakan gabungan dari teori diatas. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada lansia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimiliki.
c.       Teori pembebasan
Salah satu teori sossial yang berkenaan dengan proses penuaan adalah teori pembebasan. Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lansia menurun, baik secara kuantitas maupun kualitas sehingga sering terjadi kehilangan ganda, yakni :
1.      Kehilangan peran
2.      Hambatan kontak sosial
3.      Berkurangnya komitmen
3.      TEORI PSOKOLOGIS
Teori-teori psikologis dipengaruhi juga oleh biologi dan sosiologi salah satu teori yang ada. menurut Hanghurst ( 1972 ) setiap individu harus memperhatikan tugas perkembangan yang spesifik pada tiap tahap kehidupan yang akan memberikan perasaan bahagia dan sukses.





4.      TEORI KESALAHAN GENETIK
dr Afgel berpendapat bahwa proses menjadi tua ditentukan oleh kesalahan sel genetik DNA dimana sel genetik memperbanyak diri ( ada  yang memperbanyak diri sebelum pembelahan sel ) sehingga mengakibatkan kesalahan-kesalahan yang berakibat pula dengan terhambatnya pembentukan sel berikutnya sehingga mengakibatkan kematian sel. Pada saat sel mengalami kematian orang tampak tua
5.      RUSAKNYA SITEM IMUN TUBUH
Mutasi yang tterjadi secara berulang mengakibatkan kemampuan sistem imun untuk mengenali ditinya berkurang, menurun mengakibatkan kelainan pada sel, dianggap sel asing sehingga dihancurkan, perubahan inilah terjadi peristiwa autoimun.
C.     PENGERTIAN LANJUT USIA
Menurut hardywinoto dan setyabudi (1999) yang dikatakan lanjut usia adalah penduduk yang berumur 60 tahun keatas. Sedangkan menurut prof.DR.Koesoemanto Setyonegoro, SpKJ, dalam Nugroho ( 2009 ) lanjut usia adalah mereka  yang berusia lebih dari 65/70 tahun.
WHO membagi tingkatan usia pada lansia menjadi 3, pembagian dilakukan karena setiap tahapan memiliki karakteristik perkembangan yang berbeda. Usia pertengahan ( middle age ) yaitu antara 45-59 tahun, lanjut usia ( alderly ) yaitu 60-74 tahun, lanjut usia tua ( old ) yaitu antara 75-90 tahun, dan usia sangat tua adalah diatas usia 90 tahun ( Hidayati, 2009).
D.    MASALAH FISIK, PSIKOLOGIS, DAN SOSIAL PADA LANJUT USIA
Perubahan – perubahan secara fisik mauppun mental banyak terjadi pada saat seseorang memasuki usia lanjut, seperti adanya uban, penglihatan berkurang, tanggalnya gigi, pikkun dan depresi atau merasa dikucilkan ( Wirakusumah, 2000 ). Banyak perubahan fisik pada masa tua adalah berkurangnya fungsi panca indra, keterbatasan kemampuan melaksanakan sesuatu karena turunnya kemampuan motorik, perubahan penampilan fisik yang mempengaruhi peran status ekonomi dan sosial serta kemunduran efisiensi integratif susunan saraf pusat. Orang lanjut usia sering menyatakan kekhawatiran terhadap ketidakmampuan fisik, tetapi jarangtentang rasa takut terhadap kematian ( Dalami et al., 2009 ).


Keselarasan kondisi fisik dengan kebutuhan psikologis maupun sosial, sangat diperlukan dalam kehidupan lansia agar dapat menjaga kondisi fisik yang sehat sehingga mau tidak mau harus ada usaha untuk mengurangi kegiatan yang memfosir fisik. Faktor yang memperngaruhi dari segi psikologis adalah :
1.      Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia
2.      Tradisi dan budaya yang kurang menunjang, serta diperkuat oleh sikap keluarga dan masyarakat
3.      Kurangnya variasi dalam kehidupan, sehingga menumbuhkan kelelahan dan kebosanan
4.      Ditinggalkan oleh pasangan (Kartinah & Sudaryanto, 2008).
Proses menjadi tua adalah suatu hal yang wajar yang akan dialami setiap orang, dalam proses tersebut seseorang akan mengalami kemunduran fungsi kognitiff dan psikomotor, yang mengakibatkan lansia menjadi lambat dan kurang cekatan, penurunan tersebut membuat lansia mengalami perubahan dalam aspek psiko sosial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia. Perubahan tersebut dibedakan menjadi 5 tipe kepribadian yaitu :
1.      Tipe kepribadian kontruktif
Tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua. Lansia dengan tipe ini tidak mengalami banyak masalah.
2.      Tipe kepribadian mandiri
Tipe ini ada kecenderungan mengalami post power sindrome. Apalagi jika tidak diisi dengan kegiatan yang besa memberikan kebebasan pada lansia tersebut.
3.      Tipe kepribadian tergantung
Tipe ini biasannya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan keluarga selalu harmonis maka lansia tidak bergejolak dan sebaliknya.
4.      Tipe kepribadian bermusuhan
Tipe ini setelah memasuki lansia, lansia tersebut tidak puas dengan kehidupan. Banyak keinginan yang kadang-kadang tidak diperhitungkan secara seksama sehingga menimbulkan kondisi ekonominya menjadi tidak bisa terkendali.
5.      Tipe kepribadian kritik diri
Tipe ini umumnya terlihat sengsara. Oleh karena perilakunya sendiri yang sulit dibantu orang lain atau membuat susah dirinya ( Kartinah & Sudaryanto, 2008).
Sikap positif masyarakat pada lansia, berbagai cara bisa dilakukan diantaranya adalah dengan tidak menilai lansia sebagai orang lusuh, lemah, siap dibuang, dan beban bagi orang lain, para lansia harus merasa sebagai orang baru dan menjadikan masa lansia menjadi masa yang menggairahkan, penurunan kemampuan dan penyakit jangan dijadikan beban tetapi harus terus dimotifasi untuk meningkatkan disiplin dalam mencapai kesehatan yang prima, serta membangkitkan optomisme dalam mencapai kesehatan dan kebugaran pada lansia (Wirakusumah, 2000).
1.      PERMASALAHAN YANG TERJADI PADA LANSIA
a.       Permasalahan yang berkaitan dengan pencapain kesejahteraan lansia
Masalah tersebut antara lain :
1.      Ketidak berdayaan fisik sehingga menyebabkan ketergantungan pada orang lain
2.      Ketidak pastian ekonomi sehingga membutuhkan perubahan total dalam pola hidup
3.      Membuat teman baru untuk mendapat pengganti mereka yang telah meninggal/pindah
4.      Mengembangkan aktivitas baru untuk mengisi waktu luang yang bertambah banyak
5.      Belajar memperlakukan anak-anak yang telah tumbuh dewasa
Sedangkan masalah yang umum dan khusus adalah sebagai berikut
1.      Permasalahan umum
a.       Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan
b.      Mekin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang lansia kurang diperhatikan, dihargai dan dihormati
c.       Lahirnya kelompok masyarakat industri
d.      Masih rendahnya kualitas dan kuantitas tenaga profesional pelayanan lansia
e.       Belum membudaya dan melembaga kegiatan pembinaan kesejahteraan pada lansia
2.      Permasalahan Khusus
a.       Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik fisik, mental maupun sosial
b.      Berkurangnya integrasi sosial lansia
c.       Rendahnya produktiffitas kerja lansia
d.      Banyakkya lansia yang miskin, terlantar dan cacat
e.       Berubahnya nialai masyarakat yang mengarah pada tatanan masyarakat individualistik
f.       Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat mengganggu kesehatan fisik lansia, (Setiabihi, T. 1999 : 40-42).
b.      Masalah kesehatan utama
Masalah kesehatan utama yang sering timbul dalan gangguan kesehatan pada lansia antara lain :
1.      Penyakit jantung
2.      Penyakit keganasan : ca
3.      Penyakit ginjal
4.      Penyakit paru akut seperti : pneumonia, edema paru
5.      Penyakit vaskular seperti : CVA, penyakit pembuluh perier
6.      COPD atau PPOM ( penyakit paru obtruksi menahun)
7.      Arthritis
8.      Kelainan pada kulit dan kecelakaan
c.       Peningkatan stresor
Hal ini dapat disebabkan oleh : adanya hemiplegi, defisit sensorik, hospitalisasi, tinggal dirumah perawatan, kesulitan berbicara, kehilangan, pemindahan benda yang memiliki arti dan cara kerja yang tidak bisa dilakukan sebagaimana pada waktu dahulu.
d.      Respon obat
Permasalahan yang berkaitan dengan respon obat pada lannjut usia banyak faktor yang mempengaruhi diantarannya adalah :
1.      Menurunnya absorbsi obat, hal ini disebabkan oleh menurunnya NCL asam lambung dan perubahan pergerakan gastrointestinal
2.      Perubahan distribusi obat, hal ini disebabkan oleh menurunnya serum albumin yang mengikat obat dan tersimpannya obat pada jaringan lemak
3.      Perubahan metabolisme obat, akibat menurunnya aktifitas enzim hati
4.      Menurunnya ekskresi obat, terjadi akibat menurunnya aliran darah ke ginjal, menurunnya kecepatan filtrasi glomerulus dan menurunnya beberapa fungsi tubulus ginjal.

e.       Post power sindrom
Merupakan keadaan mal adjusment mental dari seseorang yang mempunyai kedudukan “dari ada menjadi tidak ada” dan mennunjukan gejala-gejala diantaranya frustasi, depresi dan lainnya pada orang yang bersangkutan.
Ada 4 faktor yang harus diperhatikan
1.      Perkembangan kepribadian yabg kurang dewasa
2.      Kedudukan yang relatif memberikan kekuasaan dan kepuassan
3.      Proses kehilangan kedudukan uang relatiff cepat
4.      Lingkungan yang mungkin memberikan suasana terhadap timbulnya post power sindrom.
f.       Masalah gizi lansia
Masalah yang terjadi pada lansia menyangkut gizi biasanya terakit dengan keadaan kelebihan dan kekurangan gizi serta kurangnya asupan vitamin yang sangat diperlukan oleh tubuh ( Nugroho, 2006). Keadaan gizi yang prima dicapai dengan memakan makanan yang beraneka ragam jenisnya, dalam kuantitas dan kualitas yang tepat bagi tubuh. Pabila asupan zat gizi salah dan tidak mampu memanfaatkannya akan timbul masalah gizi. Bentuk masalah gizi yang banyak ditemui pada lansia adalah sebagai berikut :
a.       Gizi berlebih (obesitas)
Lansia pada gizi berlebih terjadi biasanay karena kebiasaan makan yang berlebih saat muda. Ditambah lagi penggunaan kalori pada lansia yang berkurang akibat keterbatasan fisik, kebiasaan pada waktu muda yang sulit untuk dirubah menjadi salah satu faktor kegemuakan pada lansia (Nugroho,2006)
Prevalensi obesitas menunjukan peningkatan sesuai penambahan usia. Laki-laki pada umumnya mmengalami kenaikan beratbadan puncak pada usia 35-55 tahun, sedangkan pada wanita terjadi pada usia 55-65 tahun, dan selanjutnya akan mmenurun secar berangsur-angsur (Wirakusumah, 2000).
b.      Kurang gizi
Lansia rawan terhadap masalah kekurangan gizi, biasanya disebabkan oleh kondisi sosial-ekonomi dan gangguan penyakit. Adanay faktor psikologis seperti depresi, kecemasan, dan dimensia mempunyai kontribusi yang besar dalam menentukan asupan makanan dan zat gizi seorang lansia (Dharmojo, 2009).
c.       Osteoporosis
Permulaan lansia mulai kehilangan massa ototnya dimulai ketika memasuki usia 30 tahun, terlebih pada seorang wanita yang telah memasuki masa menopause. Sedangkan pada laki-laki resiko tinggi patah tulang terjadi setelah memasuki usia 70 tahun.
Apabila osteoporosis sudah terjadi penatalaksanaan yang bisa dilakukan adalah menurunkan resorbsi tulang dengan terapi sulih hormon dan biphosponat atau menstimulasi tulang dengan fluoride, calcitonin, dan calcitriol (Dharmojo, 2009).
d.      Anemia gizi
Efek samping obat-obatan dan asupan makanan yang menurun merupakan faktor terjadinya anemia gizi pada lansia. Umumnya pada lansia dengan berat badan rendah juga menderita anemia, anemia yanng terjadi pada lansia umumnya karena defisiensi besi, dan tiddak jarang pula defisiensi B12 sebagai penyebab anemia (Dharmojo, 2009).
E.     MITOS-MITOS LANSIA DAN REALITINYA
1.      Mitos kedamaian dan ketenangan
Pada usia lanjut dapat santai menikmati hasil kerja dan jerih payah pada usia muda dan dewasanya. Badai dan berbagai guncangan seakan akan sudah dilewati. Kenyataan sebaliknya usia lanjut penuh dengan stress karena kemiskinan dan berbagai keluhan serta penderitaan karena penyakit.
2.      Mitos konservatisme dan kemunduran peradangan
Diusia lanjut pada umumnya adalah konservatiff, tidak kreatif, menolak inovasi, berorientasi ke masa silam, ketinggalan jaman, merindukan masa lalu, kembali kemasa anak-anak, susah berubah, keras kepala dan bawel. Kenyataan semua lansia tidak bersifat dan berperilaku sedemikian.
3.      Mitos berpenyakitan
Pada lanjut usia dipandang sebagai masa degeneratif biologis yang disertai berbagai pendaritaan akibat beberapa proses penyakit. Kenyataan proses menua disertai dengan menurunnya daya tahan tubuh serta metabolisme sehingga rawan terhadap penyakit, tetapi sekarang banyak penyakit yang dapat dikontrol dan diobati.
4.      Mitos senilitas
Lansia dipandang sebagai masa dimensia yang disebabkan oleh kerusakan bagian tertentu dari otak. Kenyataannya tidak semua usia lanjut dalam proses penuaan disertai oleh kerudakan bagian otak. Mereka masih tetap sehat dan bugar dan banyak cara untuk menyesuaikan diri terhadap hal yang baru dan perubahan daya ingat.
5.      Mitos ketidakproduktian
Pada usia lanjut dipandang sebagai usia yang tidak produktif. Kenyataanya tidak demikian, masih banyak usia lanjut yang mencapai kematangan produktivitas mental dan material yang tinggi. (Sheira Saul, 19974).
























BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Sepanjang hayat, manusia mengalami berbagai perubahan yaitu perubahab biologis, sosiologis serta perubahan psikologis. Perubahan-perubahan tersebut membawa manusia menjadi tua (Dharmojo, 2004).
Bertambahnya angka harapan hidup lansia, beriringan dengan bertambahnya masalah yang akan diderita lansia. Menurut McKeon (1990) hal yang paling menonjol dialami lansia adalah kehilangan, berbagai kesedihan akan dialami oleh lansia akibat dari hal tersebut diatas ( kematian pasangan, teman, keluarga dan rekan kerja). Seppanjang hayat lansia didera berbagai persoalan hidup seperti kemiskinan, kegagalan yang beruntun, stres yang berkepanjangan, ataupun konflik dengan keluarga atau anak, atau kondisi lain seperti tidak memiliki keturunan yang bisa merawat. Kondisi hidup seperti ini dapat memicu terjadinya depresi ( Syamsudin, 2006).
Proses menua merupakan suatu proses biologis yang tidak dapat dihindarkan, yang akan dialami oleh setiap orang. Menua adalah proses menghilangnya secara perlahan-lahan ( graduil ) kemampuan jaringan untuk mmemperbaiki atau mengganti dan mempertahankan struktur dan fungsi secara normal, ketahanan terhadap injury termasuk adanya infeksi ( Paris Constantinides, 1994 ). Proses menua sudah mulai sejak seseorang mencapai dewsa, misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan syaraf dan jaringan lain. Setelah mencapai puncak, fungsi alat tubuh akan berada dalam kondisi tetap utuh beberapa saat, kemudian menurun sedikit demi sedikit sesuai bertambahnya umur.








DAFTAR PUSTAKA

Hermanto. 2010. Skripsi Hubungan Tingkat Depresi Lansia dengan Status Gizi Lansia Dipanti Wredha Semarang.
Iqbal Mubarak Wahid. 2006. Ilmu Keperawatan Komunitas 2. Jakarta : sagung seto.
Wahjudi Nugroho, Haji. 2009. Komunikasi Dalam Keperawatan Gerontik. Jakarta : EGC.