BAB 1
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Manusia mempunyai kebutuhan tertentu yang harus dipenuhi secara memuaskan melalui proses homeostasis, baik fisiologis maupun psikologis. Adapun kebutuhan merupakan suatu hal yang sangat penting, bermanfaat, atau diperlukan untuk menjaga homeostasis dan kehidupan itu sendiri. Banyak ahli filsafat, psikologis, dan fisiologis menguraikan kebutuhan manusia dan membahasnya dari berbagai segi. Orang pertama yang menguraikan kebutuhan manusia adalah Aristoteles. Sekitar tahun 1950, Abraham Maslow seorang psikolog dari Amerika mengembangkan teori tentang kebutuhan dasar manusia yang lebih dikenal dengan istilah Hierarki Kebutuhan Dasar Manusia Maslow (Wolf, Lu Verne,dkk , 1984).
Suatu hal yang sangat diperlukan tubuh dalam kaitannya dengan proses pertumbuhan dan perkembangan adalah nutrisi yang adekuat. Pemenuhan kebutuhan nutrisi akan sangat membantu seseorang untuk mempertahankan kondisi tubuh dalam mencegah terjadinya suatu penyakit, mempertahankan suhu tubuh dalam kondisi yang normal serta menghindari proses infeksi.
Nutrient adalah suatu zat yang terkandung dalam makanan misalnya karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Nutrient atau kandungan zat yang terdapat dalam makanan yang sangat dibutuhkan oleh tubuh terdiri dari 6 kategori, yaitu : karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Nutrisi normal meliputi keseimbangan antara intake makanan yang di makan dengan energi yang dikeluarkan oleh tubuh. Intake makanan yang adekuat juga dibutuhkan oleh enzim untuk mensintesa hormon, mengganti sel-sel yang telah rusak serta membantu pertumbuhan dan perbaikan jaringan. Intake nutrisi yang adekuat pada usia toddler dan pra sekolah ( 1–5 tahun ) sangat diperlukan, karena pada usia tersebut merupakan fase pertumbuhan fisik dan perkembangan yang pesat, sehingga kebutuhan nutrisi juga akan berbeda dengan usia-usia yang lain. Disamping itu pada fase ini, anak akan cenderung aktif dan merasa kehilangan nafsu makan karena rasa suka dan tidak suka terhadap suatu makanan . Sehingga peran orang tua untuk mempertahankan pemenuhan kebutuhan nutrisi pada usia toddler maupun pra sekolah sangat diperlukan untuk membantu proses pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut. Kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan pada usia ini termasuk diantaranya adalah zat besi untuk mencegah anemi, serta vitamin A dan C untuk menjaga daya tahan tubuh terhadap suatu penyakit. Kemampuan untuk mengabsorbsi makanam, keadaan fisik seperti peradangan pada sistem gastro intestinal, obstruksi pada gastro intestinal dan malabsorbsi serta diabetes melitus akan menyebabkan gangguan dalam mengabsorbsi zat-zat makanan, sehingga juga akan menyebabkan gangguan dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi
Eliminasi fecal atau defekasi merupakan proses pembuangan metabolisme tubuh yang tidak terpakai. Eliminasi yang teratur dari sisa-sisa produksi usus penting untuk fungsi tubuh normal. Perubahan pada defekasi dapat menyebabkan masalah pada gastrointestinal dan bagian tubuh lain, karena sisa-sisa produk usus adalah racun. Pola defekasi bersifat individual, bervariasi dari beberapa kali sehari sampai beberapa kali seminggu. Jumlah feses yang dikeluarkan pun berfariasi jumlahnya tiap individu. Feses normal mengandung 75% air dan 25% materi padat. Feses normal berwarna coklat karena adanya sterkobilin dan uriobilin yang berasal dari bilirubin. Warna feses dapat dipengaruhi oleh kerja bakteri Escherecia coli. Flatus yang dikelurkan orang dewasa selama 24 jam yaitu 7-10 liter flatus dalam usus besar. Kerja mikroorganisme mempengaruhi bau feses. Fungsi usus tergantung pada keseimbangan beberapa faktor, pola eliminasi dan kebiasaan (Berman, et.al., 2009).
Inkontinensia alvi merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup serius pada pasien geriatri. Angka kejadian inkontinensia alvi ini lebih sedikit dibandingkan pada kejadian inkontinensia urin. Namun demikian, data di luar negeri menyebutkan bahwa 30-50% pasien geriatri yang mengalami inkontinensia urin juga mengalami inkontinensia alvi. Inkontinensia alvi merupakan hal yang sangat mengganggu bagi penderitannya, sehingga harus diupayakan mencari penyebabnya dan penatalaksanaannya dengan baik. Seiring dengan meningkatnya angka kejadian inkontinensia urin, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi pula peningkatan angka kejadian inkontinensia alvi. Untuk itu diperlukan penanganan yang sesuai baik untuk inkontinensia urin maupun inkontinensia alvi, agar tidak menimbulkan masalah yang lebih sulit lagi sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Berikut ini akan dibahas mengenai inkontinensia alvi dan penanganannya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Sistem digestive merupakan organ gastrointestinal yang terdiri dari mulut, faring, esofagus, lambung, usus halus, usus besar.
Mulut merupakan suatu membran mukosa yang terdiri dari pipi (berfungsi sebagai otot pengunyah), lidah, dan kelenjar saliva (yang berfungsi memudahkan makaan untuk dikunyah gigi).
Faring merupakan tuba fibromuskular yang melekat pada dasar tulang tengkorak, berfungsi membawa makanan melewati orofaring dan laring menuju esofagus.
Esofagus adalah tube muskular yang bertujuan membawa makanan ke lambung.
Lambung bertindak sebagai “gerobak” makanan dalam kantung dan mlepaskan makanan tersebut secara bertahap ke dalam usus
Usus halus adalah bagian saluran pencernaan diantara lambung dan usus besar, yang bertujuan mensekresi cairan usus, menerima cairan empedu dan pankreas, mencerna makanan, serta mengabsorbsi air, garam dan vitamin.
Usus besar berfungsi mengabsorbsi air, natrium dan klorida serta mensekresi kalium.
Organ tambahan yang terdapat dalam sistem digestive namun keluar dari sistem gastrointestinal adalah pankreas.
Sistem tubuh yang berperan dalam eliminasi alvi(buang air besar) adalah gastrointestinal bawah yang meliputi usus halus dan usus bear.usus halus terdiri atas duodenum,jejunum dan ileum dengan panjang kurang lebih 6 meter dan diameter 2,5cm serta berfungsi sebagai rearbsorsi elektrolit Na,Cl,K,Mg,HCO,dan kalsium.usus besar dimulai dari rektum,kolon,hingga anus yang memiliki panjang kurang lebih1,5 meter,50-60 inci denan diameter 6 cm.
Batasan antara usus besar dan usus halus adalah katup ileocaecal.katup ini biasanya nmencegan zat yang masuk ke usus besar sebelum waktunya,dan mencegah produk buangan untuk kembali ke usus halu.produk buangan yang memasuki usus besar adalah berupa cairan.setiap hari salutan anus menyarap sekitar 800-1000 ml cairan.penyerapan inilah yang mempengaruhi fesef berbentuk dan berwujud setengah padat.jika penyerapan tidak baik,produk buangan cepatmelalui usus besar feses akan lunak dan bercair,jika feses terlalu lama dalam usus besa,maka akan terlalu banyak air yang diserap sehingga feses menjadi kering dan keras.
Kolon sigmoid mengandung feses yang sudah siap untuk dibuang dan diteruskan kedalam rektum.panjang rektum adalah 12cm (5 inci), 25cm(1 inci)merupakan saluran anus
Gerakan peristaltik yang kuat dapat mendorong feses kedepan.gerakan ini terjadi 1-4 kali dalam 24 jam dan terjadi sesudah makan.Makanan yang diterima oleh usus dari lambung dalam bentuk setengah padat atau dikenal dengan nama chyme,baik berupa air,nutrien,maupun elektrolit kemudian akan diabsorbsi.usus akan mensekresi mukus,kalium,karbonat,dan enzim.secara umum kolon berfungsi sebagai tempat rearbsorbsi,proteksi,sekresi,dan eliminasi.proses perjalanan makanan,dari mulut hingga rektum membutuhkan waktu selama 12 jam.
Otot lingkar (sfingter) bagian dalam dan luar saluran anus menguasai pembyangan feses dan gas dari anus.rangsangan motorik disalurkan oleh sistem simpatis dan rangsangan penghalang oleh sistem parasimpatis,bagian dari sisten saraf otonom ini memiliki sistem kerja yang belawanan dalam keseimbangan yang dinamis.sfingter luar anus merupakan otot bergaris yang berada dibawah penguasaan parasimpatis,baik diwaktu sakit maupun sehat.
Defekasi adalah proses pengosongan usus yang sering disebut dengan buang air besa.terdapat dua pusat yang menguasai refleks untuk defekasi,yaituterletak di medula dan sumsum tulang belakang.bila terjadi rangsangan paraimpatis,sfingter asun bagian dalam akan mengendur dan usus besar akan menguncup.refleks defekasi dirangsang untuk buang air besar kemudian sfingter anus bagian luar diawasi oleh sistem saraf parasimpatis mengendur dan menguncup saat defekasi.
Feses terdiri ats sisa makanan seperti selulosa yang tidak direncanakan dan zat makanan lain yang seluruhnya tidak dipakai oleh tubuh,berbagai macam mikroorganisme,sekresi kelenjar usus,pigmen empedu,dan cairan tubuh.
Secara umum terdapat dua macam refleks dalam membantuproses defekasiyaitu rileks defekasi intrinsik yang dimulai dengan adanya zat sisa makanan(rektum)dalam rektum sehungga terjadi distensi.kemudian flexus mesenterikus merangsang gerakan peristaltik dan akhirnya feses sampai dianus.
Inkotinensia alvi adalah ketidakmampuan seseorang dalam menahan dan mengeluarkan tinja pada waktu dan tempat yang tepat. Inkontinensia dapat diklasifikasikan menjadi soil (kehilangan mukus), insufisiensi (tidak ada kontrol gas dan diare), dan inkontinensia (tidak ada kontrol untuk membentuk feses padat). Klasifikasi lain membagi inkontinensia menjdai inkontinensia minor dan inkontinensia mayor. Inkontinensia mayor adalah keadaan tidak dapat mengontrol membentuk konsistensi tinja yang normal. Sedangkan inkontinensia minor adalah soilling sebagian atau keadaan dimana sewaktu-waktu dapat mengeluarkan tinja secara normal dan tepat atau dapat diartikan sebagai bentuk tinja yang encer/cair.
Inkontinensia alvi merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup serius pada pasien geriatri. Angka kejadian inkontinensia alvi ini lebih sedikit dibandingkan pada kejadian inkontinensia urin. Namun demikian, data di luar negeri menyebutkan bahwa 30-50% pasien geriatri yang mengalami inkontinensia urin juga mengalami inkontinensia alvi. Inkontinensia alvi merupakan hal yang sangat mengganggu bagi penderitannya, sehingga harus diupayakan mencari penyebabnya dan penatalaksanaannya dengan baik. Seiring dengan meningkatnya angka kejadian inkontinensia urin, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi pula peningkatan angka kejadian inkontinensia alvi. Untuk itu diperlukan penanganan yang sesuai baik untuk inkontinensia urin maupun inkontinensia alvi, agar tidak menimbulkan masalah yang lebih sulit lagi sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Berikut ini akan dibahas mengenai inkontinensia alvi dan penanganannya.
B. ETIOLOGI
Penyebab utama timbulnya inkotinensia alvi adalah masalah sembelit, penggunaan pencahar yang berlebihan, gangguan saraf seperti demensia dan stroke, serta gangguan kolorektum seperti diare, neuropati diabetik, dan kerusakan sfingter rektum.
Konstipasi atau sembelit merupakan kejadian yang paling sering timbul pada pasien geriatri dan bila menjadi kronik akan menyebabkan timbulnya inkontinensia alvi. Skibala akan mengiritasi rektum dan menghasilkan mukus dan cairan. Cairan ini akan membanjiri tinja yang mengeras dan mempercepat terjadinya inkontinensia. Konstipasi sulit untuk didefinisikan dan secara teknik biasanya diindentikkan dengan buang air besar sebanyak tiga kali dalam seminggu.
Penyebab inkontinensia alvi dapat dibagi menjadi 4 kelompok (Brocklehurst dkk, 1987; Kane dkk, 1989) :
1. Inkontinensia alvi akibat konstipasi
2. Inkontinensia alvi simtomatik, yang berkaitan dengan penyakit pada usus besar.
3. Inkontinensia alvi akibat gangguan kontrol persyarafan dari proses defekasi (inkontinensia neurogenik).
4. Inkontinensia alvi karena hilangnya refleks anal.
C. PATOFISIOLOGI
Fungsi traktus gastrointestinal biasanya masih tetap adekuat sepanjang hidup. Namun demikian beberapa orang lansia mengalami ketidaknyamanan akibat motilitas yang melambat. Peristaltic di esophagus kurang efisien pada lansia. Selain itu, sfingter gastroesofagus gagal berelaksasi, mengakibatkan pengosongan esophagus terlambat.keluhan utama biasanya berpusat pada perasaan penuh, nyeri ulu hati, dan gangguan pencernaan. Motalitas gaster juga mnurun, akibatnya terjadi keterlambtan pengososngan isis lambung. Berkurangnya sekresi asam dan pepsin akan menurunkan absorsi besi, kansium dan vitamin B12.
Absorsi nutrient di usus halus nampaknya juga berkurang dengan bertambahnya usia namun masih tetap adekuaT. Fungsi hepar, kandung empedu dan pangkreas tetap dapat di pertahankan, meski terdapat inefisiensi dalam absorsi dan toleransi terhadap lemak. Impaksi feses secara akut dan hilangnya kontraksi otot polos pada sfingter mengakibatkan inkontinensia alvi.
Absorsi nutrient di usus halus nampaknya juga berkurang dengan bertambahnya usia namun masih tetap adekuaT. Fungsi hepar, kandung empedu dan pangkreas tetap dapat di pertahankan, meski terdapat inefisiensi dalam absorsi dan toleransi terhadap lemak. Impaksi feses secara akut dan hilangnya kontraksi otot polos pada sfingter mengakibatkan inkontinensia alvi.
D. TIPE-TIPE INKONTINENSIA ALVI
1. Inkontinensia alvi akibat konstipasi
Konstipasi merupakan keadaan individu yang mengalami atau beresiko tinggi mengalami statis usus besar sehingga menimbulkan eliminasi yang jarang atau keras, atau keluarnya tinja terlalu kering dan keras.
Tanda Klinis :
· Adanya feses yang keras
· Defekasi kurang dari 3x seminggu
· Menurunnya bising usus
· Adanya keluhan pada rektum
· Nyeri saat mengejan dan defekasi
· Adanya perasaan masih ada sisa feses.
Kemungkinan Penyebab :
· Defek persarafan, kelemahan pelvis, imobilitas karena cidera serebrosspinalis,CVA, dll
· Pola defekasi tidak teratur
· Nyeri saat defekasi karena hemoroid
· Menurunnya peristaltik karena stres psikologis
· Penggunaan obat, seperti penggunaan antasida, laksantiv, atau anastesi.
· Proses penuaan (usia lanjut).
Batasan dari konstipasi (obstipasi) masih belum tegas. Secara teknis dimaksudkan untuk buang air besar kurang dari tiga kali per minggu. Tetapi banyak penderita sudah mengeluhkan konstipasi bila ada kesulitan mengeluarkan feses yang keras atau merasa kurang puas saat buang air besar (Kane dkk, 1989). Konstipasi sering sekali dijumpai pada lanjut usia dan merupakan penyebab yang paling utama pada inkontinensia alvi pada lanjut usia (Brocklehurst dkk, 1987).
Obstipasi yang berlangsung lama dapat mengakibatkan sumbatan/impaksi dari masa feses yang keras (skibala). Masa feses yang tidak dapat keluar ini akan menyumbat lumen bawah dari anus dan menyebabkan perubahan dari besarnya sudut ano-rektal. Kemampuan sensor menumpul dan tidak dapat membedakan antara flatus, cairan atau feses. Akibatnya feses yang cair akan merembes keluar (Broklehurst dkk, 1987).
Skibala yang terjadi juga akan menyebabkan iritasi pada mukosa rektum dan terjadi produksi cairan dan mukus, yang selanjutnya melalui sela-sela dari feses yang impaksi akan keluar dan terjadi inkontinensia alvi (Kane dkk, 1989). Diagnosis ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, antara lain meraba adanya skibala pada colok dubur.
2. Inkontinensia alvi simtomatik
Inkontinensia alvi simtomatik dapat merupakan penampilan klinis dari macam-macam kelainan patologik yang dapat menyebabkan diare. Keadaan ini mungkin dipermudah dengan adanya perubahan berkaian dengan bertambahnya usia dari proses kontrol yang rumit pada fungsi sfingter terhadap feses yang cair, dan gangguan pada saluran anus bagian atas dalam membedakan flatus dan feses yang cair (Brocklehurst dkk, 1987).
Beberapa penyebab diare yang mengakibatkan inkontinensia alvi simtomatik ini antara lain gastroenteritis, divertikulitis, proktitis, kolitis-iskemik, kolitis ulceratif, karsinoma kolon/rektum. Penyebab lain dari inkontinensia alvi simtomatik misalnya kelainan metabolik, contohnya diabetes mellitus, kelainan endokrin seperti tiroksikosis, kerusakan sfingter anus sebagai komplikasi dari operasi hemoroid yang kurang berhasil dan prolapsus rekti.
Penyebab yang paling umum dari diare pada usia lanjut usia adalah obat-obatan, antara lain yang mengandung unsur besi, atau memang akibat pencahar (Brocklehurst dkk, 1987; Robert-Thomson).
3. Inkontinensia alvi neurogenik
Inkontinensia alvi neurogenik terjadi akibat gangguan fungsi menghambat dari korteks serebri saat terjadi regangan/distensi rektum. Proses normal dari defekasi melalui refleks gastro-kolon. Beberapa menit setelah makanan sampai di lambung/gaster, akan menyebabkan pergerakan feses dari kolon desenden ke arah rektum. Distensi rektum akan diikuti relaksasi sfingter interna. Dan seperti halnya kandung kemih, tidak terjadi kontraksi intrinsik dari rektum pada orang dewasa normal, karena ada inhibisi/hambatan dari pusat di korteks serebri (Brocklehurst dkk, 1987). Bila buang air besar tidak memungkinkan, maka hal ini tetap ditunda dengan inhibisi yang disadari terhdap kontraksi rektum dan sfingter eksternanya. Pada lanjut usia dan terutama pada penderita dengan penyakit serebrovaskuler, kemampuan untuk menghambat proses defekasi ini dapat terganggu bahkan hilang.
Karakteristik inkontinensia neurogenik ini tampak pada penderita dengan infark serebri multipel, atau penderita demensia. Gambaran klinisnya ditemukan satu-dua potong feses yang sudah berbentuk ditempat tidur, dan biasanya setelah minum panas atau makan.
4. Inkontinensia alvi akibat hilangnya refleks anal
Inkontinensia alvi ini terjadi akibat hilangnya refleks anal, disertai kelemahan otot-otot seran lintang.
Parks, Henry dan Swash dalam penelitiannya (seperti dikutip oleh Brocklehurst dkk, 1987), menunjukkan berkurangnya unit-unit yang berfungsi motorik pada otot-otot daerah sfingter dan pubo-rektal. Keadaan ini menyebabkan hilangnya refleks anal, berkurangnya sensasi pada anus disertai menurunnya tonus anus. Hal ini dapat berakibat inkontinensia alvi pada peningkatan tekanan intra-abdomen dan prolaps dari rektum. Pengelolaan inkontinensia ini sebaiknya diserahkan pada ahli proktologi untuk pengobatannya (Brocklehurst dkk, 1987).
5. Inkontinensia alvi akibat konstipasi kolonik
Konstipasi kolonin merupakan keadaan individu yang mengalamai atau beresiko mengalami perlambatan pasase residu makanan yang mengakibatkan feses kering dan keras.
Tanda Klinis :
· Adanya penurunan frekuensi eliminasi
· Feses kering dan keras
· Mengejan saat defekasi
· Nyeri defekasi
· Adanya distensi pada abdomen
· Adanya tekanan pada rektum
· Nyeri abdomen
Kemungkinan Penyebab :
· Deek persarafan, kelemahan pelvis, imobilitas karena cidera serebrusspinalis, CVA dll
· Pola defkasi yang tidak teratur
· Efek samping penggunaan obat antasida, anastesi, laksantif dll
· Menurunnya peristaltik
6. Inkontinensia alvi akibat konstipasi dirasakan
Konstipasi dirasakan merupakan keadaan individu dalam menentukan sendiri penggunaan laksantif, enema, supositoria untuk memastikan defkasi setiap harinya.
Tanda Klinis :
· Adanya penggunaan laksansia setiap hari sebagai enema atau supositoria secara berlebihan.
· Adanya dugaan pengeluaran feses pada waktu yang sama setiap hari.
Kemungkinan Penyebab :
· Persepsi salah akibat depresi.
· Keyakinan budaya.
7. Inkontinensia alvi akibat diare
Diare merupakan keadaan individu yang mengalami atau berisiko sering mengalami penegluaran feses dalam bentuk cair,. Diare sering disertai dengan kejang usus, mungkin disertai oleh rasa mual dan muntah.
Tanda Klinis :
· Adanya pengeluaran feses cair.
· Frekuensi lebih dari 3 kali sehari.
· Nyeri/kram abdomen.
· Bising usus meningkat.
Kemungkinan Penyebab :
· Malabsorpsi atau inflamasi, proses infeksi.
· Peningkatan peristaltik karena peningkatan metabolisme.
· Efek tindakan pembedahan usus.
· Efek penggunaan obat seperti antasida, laksansia, antibiotik dll.
· Stres psikologis.
8. Inkontinensia alvi akibat kembung
Kembung merupakan keadaan penuh udara dalam perut karena pengumpulan gas secara berlebihan dalam lambung atau usus.
9. Inkontinensia lavi akibat hemorroid
Hemorroid merupakan keadaan terjadinya pelebaran vena di daerah anus sebagai akibat peningkatan tekanan di daerah anus yang dapat disebabkan karena konstipasi, peregangan saat defekasi dll.
10. Fecal Impaction
Fecal impaction merupakan masa feses di lipatan rektum yang diakibatkan oleh retensi dan akumulasi materi feses yang berkepanjangan. Penyebab konstipasi adalah asupan kurang, aktivitas kurang, diet rendah serat, dan kelemahan tonus otot.
E. GAMBARAN KLINIS
Klinis inkontinensia alvi tampak dalam dua keadaan:
1. Feses yang cair atau belum berbentuk, sering bahkan selalu keluar merembes.
2. Keluarnya feses yang sudah berbentuk, sekali atau dua kali perhari, dipakaian atau ditempat tidur.
F. Faktor yang Memengaruhi Proses Defekasi
a. Usia
Setiap tahun perkembangan/usia memiliki kemampuan mengontrol defekasi yang berbeda. Bayi belum memiliki kemampuan mengontrol secara penuh dalam buang air besar, sedangkan orang dewasa sudah memiliki kemampuan mengontrol secara penuh, dan pada usia lanjut proses pengontrolan tersebut mengalami penurunan.
b. Diet
Diet atau pola jenis makanan yang dikonsumsi dapat memengaruhi proses defekasi. Makanan yang memiliki kandungan serat tinggi dapat membantu proses percepatan dan jumlah yang dikonsumsi pun dapat memengaruhinya.
c. Asupan Cairan
Pemasukan cairan yang kurangdalam tubuh membuat defekasi menjadi keras oleh karena proses absorpsi kurang sehingga dapat memengaruhi kesulitan proses defekasi.
d. Aktivitas
Aktivitas dapat memengaruhi karena melalui aktivitas tonus otot abdomen, pelvis, dan diafragma dapat membantu kelancaran proses defekasi.
e. Pengobatan
Pengobatan dapat memengaruhi proses defekasi, seperti penggunaan laksansia atau antasida yang terlalu sering.
f. Gaya Hidup
Hal ini dapat terlihat pada seseorang yang memiliki gaya hidup sehat/kebiasaan melakukan buang air besar di tempat yang bersih atau toilet.
g. Penyakit
Biasanya penyakit-penyakit yang berhubungan langsung sistem pencernaan, seperti gastrointeritis atau penyakit infeksi lainnya.
h. Nyeri
Adanya nyeri dapat memengaruhi kemampuan/keinginan untuk berdefekasi, seperti nyeri pada beberapa kasus hemoroid dan episiotomi.
i. Kerusakan Sensoris dan Motoris
Kerusakan pada sistem sensoris dan motoris dapat memengaruhi proses defekasi karena dapat menimbulkan proses penurunan stimulasi sensoris dalam berdefekasi. Hal tersebut dapat diakibatkan oleh kerusakan pada tulang belakang atauu kerusakan saraf lainnya.
G. MANIFESTASI KLINIS
Secara klinis, inkontinensia alvi dapat tampak sebagai feses yang cair atau belum berbentuk dan feses keluar yang sudah berbentuk, sekali atau dua kali sehari dipakaian atau tempat tidur. Perbedaan penampilan klinis ini dapat menunjukkan penyebab yang berbeda-beda, antara lain inkontinensia alvi akibat konstipasi (sulit buang air besar), simtomatik (berkaitan dengan penyakit usus besar), akibat gangguan saraf pada proses defekasi (neurogenik), dan akibat hilangnya refleks pada anus.
H. PEMERIKSAAN FISIK
1. Umum : tinggi badan, berat badan, gangguan neuromuscular dan trauma medulla spinalis, adanya demansia atau gangguan saraf lainya (strok, penyakit Parkinson)
2. Lokal : meliputi pemeriksaan inspeksi dan pemeriksaan rectum, pada inspeksi di lihat bagaimana kontraksi anus saat dikerutkan, reflek kulit anus, dan sensasi dermatomlumbosaktral, pemeriksaan rectum dapat mengetahui adanya kelemahan pada sfingter, tonus anus.
I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan anoskopi dan protosigmoidoskopi mungkin diperlukan pada kondisi tertentu.
J. PENATALAKSANAAN
Penanganan yang baik terhadap sembelit akan mencegah timbulnya skibala dan dapat menghindari kejadian inkontinensia alvi. Langkah utama dalam penanganan sembelit pada pasien geriatri adalah dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya sembelit. Jika sembelit yang timbul pada pasien geriatri merupakan suatu keluhan yang baru, maka kemungkinan hal tersebut disebabkan oleh penyakit kolon, gangguan endokrin dan metabolik, deperesi atau efek samping obat-obatan.
Untuk pencegahan konstipasi, lansia sebaiknya mengkonsumsi diet yang cukup cairan dan serat. Dianjurkan untuk mengkonsumsi 4-6 gram serat kasar sehari (hal ini bisa did apatkan dari 3-4 sendok the biji-bijian).
Beberapa hal yang bisa dilakukan dalam penanganan inkotinensia alvi adalah dengan mengatur waktu ke toilet, meningkatkan mobilisasi, dan pengaturan posisi tubuh ketika sedang melakukan buang air besar di toilet. Defekasi sebaiknya dilakukan ditempat yang khusus, lingkungan yang tenang, dan pada saat timbulnya refleks gastrokolik yang biasanya timbul lima menit setelah makan.
Pada inkotinensia alvi yang disebabkan oleh gangguan syaraf, terapi latihan otot dasar panggul terkadang dapat dilakukan, meskipun sebagian besar pasien geriatrik dengan dimensia tidak dapat menjalani terapi tersebut. Pada pasien dengan demensia tahap akhir dengan inkotinensia alvi, program penjadwalan ke toilet dan penjadwalan penggunaan obat pencahar secara teratur dapat dilakukan dan efektif untuk mengontrol defekasi. Usaha terakhir yang dapat dilakukan dalam penanganan inkontinensia alvi pada pasien ini adalah dengan menggunakan pampers yang dapat mencegah dari komplikasi.
K. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Untuk mengkaji pola eliminasi dan menentukan adanya kelainan, perawat melakukan pengkajian riwayat keperawatan, pengkajian fisik abdomen, menginspeksi karakteristik feses dn meninjau kembali hasil pemeriksaan yang berhubungan.
2. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul
1) Inkontinensia Feses: Refleksik yang berhubungan dengan penurunan kontrol sfingter volunter.
Kriteria Hasil: Klien akan mengeluarkan bentuk feses lunak setiap dua hari atau setiap hari ketiga.
| Kriteria Pengkajian Fokus | Makna Klinis |
| 1. Pola BAB sebelumnya dan saat ini 2. Kontrol sfingter rektal, adanya refleks kedutan anal dan bulbokavernosus 3. Kesadaran tentang isyarat usus | Sinyal sensori asenden antara pusat refleks sakral dan otak terganggu, mengakibatkan ketidakmampuan untuk merasakan keinginan defekasi. Sinyal motorik desenden dari oral juga terganggu menyebabkan kehilangan kontrol volenter pada sfingter anal. |
| Intervensi | Rasional |
| 1. Kaji pola eliminasi usus, diet, gaya hidup sebelumnya. 2. Rencanakan waktu yang konsisten dan tepat untuk eliminasi. Buat program usus harian selama 5 hari atau sampai terbentuk pola, kemudian program alternatif hari (pagi atau malam). 3. Untuk klien yang mampu secara fungsional, gunakan alat bantu, mis: tongkat dil, stimulator digital, meninggikan dudukan toilet, dan pelumas serta sarung tangan, sesuai kebutuhan. 4. Pada klien dengan inervasi mobilitas ekstremitas atas dan muskulator abdominal ajarkan teknik yang memudahkan eliminasi usus dengan tepat: a. Menuver Valsalva’s b. Membungkuk ke depan c. Duduk push-up d. Masase abdomen searah jarum jam 5. Bantu dan berikan peralatan untuk tindakan higiene, bila perlu. 6. Pertahankan catatan eliminasi atau lembar flow record jadwal BAB yang mencakup waktu, karakteristik feses, metoda pembantu yan digunakan, dan berapa kali BAB involunter jika terjadi. 7. Mulai konsultasi nutrisi; berikan diet tinggi cairan dan kandungan serat. Pantau masukan dan haluaran cairan. 8. Berikan aktivitas fisik dan latihan yang sesuai pada kemampuan dan ketahanan fungsi klien | 1. Pengkajian ini memungkinkan perawat menencanakan program usus untuk memenuhi kebiasaan dan kebutuhan klien. 2. Jadwal evakuasi rutin menurunkan atau menghilangkan kesempatan pasase feses involenter. 3. Tingkat dil danstimulator digital merangsang sfingter rektal dan kolon bawah, menimbulkan peristaltik untuk gerakan material fekal. 4. Teknik ini meningkatkan tekanan abdominal utnuk memudahkan pasase feses pada waktu evakuasi. Jangan mengajarkan manuver Valsalva’s bila klien mengalami masalah jantung (Zajdlik, 1992) 5. Higiene yang baik membantu mencegah kerusakan kulit. 6. Dokumentasi berkelanjutan jadwal eliminasi dn hasilnya memberikan data yang sangat membantu untuk penatalaksanaan program BAB. 7. Freuensi dan konsistensi feses berhubungan dengan masukan cairan dan makanan. Serat meningkatkan efek bulk fekal dan meningkatkan kepadatan feses namun lunak dan bentuk feses yang baik serta menurunkan risiko konstipasin akibat fses keras kering. 8. Aktivitas fisik meningkatkan peristaltik, membantu pencernaan dan memudahkan eliminasi. |
2) Resiko tinggi terhadap isolasi sosial yang berhubungan dengan rasa malu tentang inkontinensia di depan orang lain.
Kriteria Hasil.
Klien akan:
a) Mengekspresikan keingingan untuk bersosialisasi
b) Menunjukkan maksud untuk membuat atau meningkatkan pola sosialisasi
| Kriteria Pengkajian Fokus | Makna Klinis |
| 1. Riwayat sosialisasi 2. Penurunan kontak sosial aktual atau yang diantisipasi | Perasaan malu, penolakan dan harga diri rendah dapat menunjang isolasi. Klien beresiko tinggi harus dikaji dengan cermat, karena penginderaan yang berhubungan dengan isolasi sosial yang tidak selalu mudah tampak. |
| Intervensi | Rasional |
| 1. Akui frustasi klien dengan inkontinensia 2. Tentukan kemampuan klien untuk mengikuti pelatihan untuk mengatasi inkontinensia feses. 3. Ajarkan klien cara untuk mengontrol masalah inkontinensia. 4. Berikan dorongan klien untuk melakukan sosialisasi keluar dalam waktu singkat pada awalnya, kemudian meningkatkan lamanya kontak sosial bila sukses pada penanganan peningkatan inkontinensia. | 1. Bagi klien, inkontinensia dapat tampak seperti kembali keadaan seperti bayi dimana ia tidak mempunyai kontrol terhadap fungsi tubuhnya dan merasa diasingkan oleh orang lain. Pengakuan kesulitan situasi dapat membantu mengurangi perasaan frustasinya. 2. Tindakan ini dapat meningkatkan kontrol dan mengurangi rasa takut terhadap cedera. 3. Dengan membantu klien mengatasi inkontinensia akan mendorong sosialisasi 4. Perjalanan singkat membantu klien secara bertahap meningkatkan percaya diri dan mengurangi rasa takutnya. |
3) Resiko kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan inkontinensia fekal
Kriteria Hasil: Pasien akan mempertahankan integritas kulit
| Intervensi | Rasional |
| 1. Kaji kulit tiap hari. Catat warna, turgor, sirkulasi dan sensasi. 2. Pertahankan dalam higiene kulit, misalnya membasuh kemudian mengeringkannya dengan berhati-hati dan melakukan masase dengan menggunakan lotion atau krim. 3. Pertahankan sprei bersih dan tidak berkerut 4. Gunting kuku secara teratur | 1. Menentukan garis dasar dimana perubahan pada status dapat dibandingkan dan melakukan intervensi yang tepat. 2. Mempertahankan kebersihan karena kulit yang kering dapat menjadi barier infeksi. Pembasuhan kulit kering sebagai ganti menggaruk menurunkan resiko trauma dermal pada kulit yang kering/rapuh. Masase meningkatkan sirkulasi kulit dan meningkatkan kenyamanan. 3. Friksi kulit disebabkan oleh kain yang berkerut dan basah yang menyebabkan iritasi dan potensial terhadap infeksi. 4. Kuku yang panjang/kasar meningkatkan resiko kerusakan dermal |
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Eliminasi fecal atau defekasi merupakan proses pembuangan metabolisme tubuh yang tidak terpakai. Eliminasi yang teratur dari sisa-sisa produksi usus penting untuk fungsi tubuh normal. Perubahan pada defekasi dapat menyebabkan masalah pada gastrointestinal dan bagian tubuh lain, karena sisa-sisa produk usus adalah racun. Pola defekasi bersifat individual, bervariasi dari beberapa kali sehari sampai beberapa kali seminggu. Jumlah feses yang dikeluarkan pun berfariasi jumlahnya tiap individu. Feses normal mengandung 75% air dan 25% materi padat. Feses normal berwarna coklat karena adanya sterkobilin dan uriobilin yang berasal dari bilirubin. Warna feses dapat dipengaruhi oleh kerja bakteri Escherecia coli. Flatus yang dikelurkan orang dewasa selama 24 jam yaitu 7-10 liter flatus dalam usus besar. Kerja mikroorganisme mempengaruhi bau feses. Fungsi usus tergantung pada keseimbangan beberapa faktor, pola eliminasi dan kebiasaan (Berman, et.al., 2009).
Inkontinensia alvi merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup serius pada pasien geriatri. Angka kejadian inkontinensia alvi ini lebih sedikit dibandingkan pada kejadian inkontinensia urin. Namun demikian, data di luar negeri menyebutkan bahwa 30-50% pasien geriatri yang mengalami inkontinensia urin juga mengalami inkontinensia alvi. Inkontinensia alvi merupakan hal yang sangat mengganggu bagi penderitannya, sehingga harus diupayakan mencari penyebabnya dan penatalaksanaannya dengan baik. Seiring dengan meningkatnya angka kejadian inkontinensia urin, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi pula peningkatan angka kejadian inkontinensia alvi. Untuk itu diperlukan penanganan yang sesuai baik untuk inkontinensia urin maupun inkontinensia alvi, agar tidak menimbulkan masalah yang lebih sulit lagi sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Boedhi, Darmojo R., Martono, Hadi. 2004. BUKU AJAR GERIATRI (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Edisi ke-3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Czeresna Heriawan Soejono, Siti Setati, Martina Wiwie S. Nasrun, Shinta Silaswati. 2000. Pedoman Pengelolaan Kesehatan Pasien Geriatri Untuk Dokter dan Perawat. Jakarta: Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
Jual Carpenito, Lynda. 1995. RENCANA ASUHAN & DOKUMENTASI KEPERAWATAN Diagnosa Keperawatan & Masalah Kolaboratif. Edisi II. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran (EGC).
W. Sudoyo, Aru. 2006. Buku Ajar ILMU PENYAKIT DALAM. JILID III, EDISI IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Depertemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indoneesia.
Alimul Aziz.2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Alimul Aziz.2008. Keterampilan Dasar Praktek Klinik untuk Kebidanan. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika
Mubarak Iqbal. 2002. Kebutuhan dasar manusia. Jakarta : EGC
Saryono, dkk. 2010. Kebutuhan dasar manusia. Yogyakarta : Salemba medika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar